TKW, Pahlawan DEvisa

15 April, 02:37, by admin

Tenaga Kerja Wanita

Pahlawan Devisa yang perlu dilindungi

Sudah sering terdengar kisah menyedihkan tentang Tenaga Kerja wanita (TKW). Hal ini juga dialami beberapa TKW di Ngawi, termasuk diantaranya Siti tarwiyah dari Kendal,. Ngawi.  Dia harus mati disiksa majikannya di arab Saudi. Padahal hal ini bisa dicegah.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak perempuan yang terpaksa harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Berkaitan dengan perempuan yang bekerja ini Pasal 5 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menentukan bahwa “Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan.” Ketentuan Pasal 5 ini membuka peluang kepada perempuan untuk memasuki semua sektor pekerjaan, dengan catatan bahwa perempuan itu mau dan mampu melakukan pekerjaan tersebut.

Selanjutnya di dalam Pasal 6 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 ditentukan bahwa “Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha.” Ketentuan Pasal 6 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 ini semakin memperjelas ketentuan Pasal 5 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam dunia kerja.

Ketentuan Pasal 5 dan 6 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tersebut dimaksudkan untuk menjamin hak-hak dasar pekerja/buruh dan menjamin kesamaan kesempatan serta perlakuan tanpa diskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan kemajuan dunia usaha. Dengan adanya ketentuan Pasal 5 dan 6 ini maka dapat dikatakan bahwa Undang-undang Ketenagakerjaan yang baru merupakan Undang-undang yang anti diskriminasi.

Berangkat dari ketentuan undang-undang yang melarang adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki dalam dunia kerja (das sollen), maka seharusnya di dalam kenyataannya perempuan yang bekerja memang benar-benar diperlakukan tanpa adanya diskriminasi dengan laki-laki. Akan tetapi di dalam kenyataannya (das sein) sering terjadi diskriminasi antara laki-laki dan perempuan dalam banyak aspek dari pekerjaan, misalnya dari segi gaji, tunjangan, jenjang karier, dan lain-lain.

Di antara sekian banyak profesi yang bisa digeluti perempuan dalam mencari nafkah, ada pekerjaan-pekerjaan tertentu yang mewajibkan perempuan tersebut untuk bekerja di malam hari. Hal ini misalnya pada sebuah pabrik yang memiliki tiga shift jam kerja yang salah satunya berawal di sore hari dan berakhir pada malam hari.

Salah satu pekerjaan yang dilakukan di malam hari adalah pekerjaan sebagai penjaga bilyar di Q-Club Yogyakarta. Pekerjaan sebagai penjaga bilyar di malam hari mempunyai risiko yang lebih besar dibandingkan pekerjaan yang sama pada siang hari. Risiko yang muncul antara lain riskan terhadap perlakuan tidak senonoh dari majikan atau dari pihak lain yang menganggap bahwa perempuan penjaga bilyar apalagi yang bekerja di malam hari “bisa dibawa”. Banyak kasus pelecehan seksual bahkan perkosaan yang terjadi pada perempuan yang jam kerjanya pada malam hari. Tidak sedikit pula masyarakat yang mengejek dan mempunyai pandangan buruk terhadap perempuan yang bekerja di malam hari. Padahal semua itu terpaksa dilakukan karena itu memang tuntutan pekerjaan.

Lomba Cerdik Bakorwil Kemaren

13 April, 08:31, by admin Tags:

PENANAMAN POHON ARMED 12 NGAWI

13 April, 08:25, by admin Tags:

Sebagai respon kegiatan Hari Tanam Nasional dan bulan penanaman Indonesia, jajaran batalyon Armed 12 Ngawi melakukan penghijauan yang dipusatkan di Kec Ngawi dengan menanam 1500 batang pohon trambesi di sepanjang jalan ring road, dan beberapa kecamatan seperti Jogorogo, Mantingan, dan Kasreman,

Acara penghijauan tersebut di awali dengan apel bersama yang di pimpin langsung Bupati Ngawi Ir. Budi Sulistyono. dalam amanatnya Bupati Ngawi menyampaikan bahwa program penghijauan merupakan tindak lanjut menyukseskan progran penghijauan penanaman satu juta pohon yang dicanangkan pemerintah selain itu penghijauan merupakan salah satu program Kabupaten Ngawi untuk menjadikan Kabupaten Ngawi “ijo royo-royo”. dalam berupaya menghambat pemanasan global, dan melestarikan kondisi lingkungan di Kabupaten Ngawi.

Dalam kesempatan ini, Bupati Ngawi menambahkan, bahwa tindak lanjut ke depan sangatlah diperlukan. “Jadi jangan cuma asal menanam saja tapi pemeliharaan sangat perlu dilakukan juga, sehingga apa yang kita tanam sekarang hasilnya dapat dirasakan di kemudian hari,” katanya.

Setelah acara pembukaan kemudian dilanjutkan dengan penanaman secara simbolis oleh Bupati Ir. Budi Sulistyono, Wabup Ony Anwar ST, Ketua DPRD Dwi Rianto Djatmiko, Danyon Armed 12 Letkol Arm Budi Suwanto S.Sos, Dandim 0805 Letnan Kolonel Inf Mu’tamar, Muspida dan jajaran batalyon Armed 12 Ngawi.

Warga Pelem Ramai-Ramai Bakar Ulat

12 April, 13:29, by admin
NGAWI – Wabah ulat bulu mulai ditakuti warga Ngawi. Apalagi bagi warga pemukiman Kelurahan Pelem Kecamatan Ngawi. Ratusan ulat bulu mulai menyerang pohon mangga mereka dan sebagian sudah merambah tembok-tembok rumah warga.
Warga Pelem memutuskan untuk membakar ulat-ulat yang menyerang pohon terutama pohon mangga. Warga waspada terhadap keberadaan ulat bulu ini karena dapat menyebabkan gatal-gatal bila terkena kulit. “Kami khawatir kalau sudah menyerang tembok rumah, bisa menyebabkan gatal apalagi bila kena anak-anak atau bayi yang berkulit sensitif,” ungkap Mintarto, salah satu warga Pelem.
Tak mau kecolongan, warga Ngawi memberantas ulat bulu ini dengan memangkas pohon mangga serta membakar ulat-ulat yang merayap di pangkal pohon. (***)

Warga Pelem Ramai-Ramai Bakar UlatNGAWI – Wabah ulat bulu mulai ditakuti warga Ngawi. Apalagi bagi warga pemukiman Kelurahan Pelem Kecamatan Ngawi. Ratusan ulat bulu mulai menyerang pohon mangga mereka dan sebagian sudah merambah tembok-tembok rumah warga.Warga Pelem memutuskan untuk membakar ulat-ulat yang menyerang pohon terutama pohon mangga. Warga waspada terhadap keberadaan ulat bulu ini karena dapat menyebabkan gatal-gatal bila terkena kulit. “Kami khawatir kalau sudah menyerang tembok rumah, bisa menyebabkan gatal apalagi bila kena anak-anak atau bayi yang berkulit sensitif,” ungkap Mintarto, salah satu warga Pelem.Tak mau kecolongan, warga Ngawi memberantas ulat bulu ini dengan memangkas pohon mangga serta membakar ulat-ulat yang merayap di pangkal pohon. (***)